Ruang Berpikir seperti sarang Penyamun.
Tidak seperti biasanya, duduk menyepi terkurung diri dan memulai berpikir.
Ruangan itu kini telah jauh dari keberadaan ku
Harapan dan impian kian ambruk,
sudut demi sudut menjadi resah karena dihadapkan dengan suasana yang berbeda kelak tiada perubahan.
Poster-poster, lukisan-lukisan (sketsa), buku-buku dan tata ruangan itu kini hanya membisu.
Saya tahu pasti kalian merindukan sosok diri ku,
yang membuat mu ada dan menemani keseharian ku didalam ruangan sederhana.
Dapat saya mengulas sedikit tentang hidup ku bersama benda-benda yang menemani ku berpikir untuk perjuangan kebebasan dan hidup.
Awal mula ruangan itu kosong dan sepi seperti tiada kehidupan disana dan gelap yang menyapa tempat itu seakan tak layak untuk dihuni. Kelak kehadiran diri ku menyapa suasana yang membisu pada ruang itu, keberadaan ku pada waktu itu tak memiliki sepersen uang untuk melengkapi kebutuhan dalam ruangan tersebut. Tetapi ada satu keistimewaan yang menyertai diriku ialah "Berpikir Kreatif". Atas potensi pribadi yang sederhana itu kemudian aku berpijak pada benda-benda bekas yang ku anggap dapat didaur ulang guna mengisi kebutuhan ku bersama ruangan kosong dan juga dapat mengurangi biaya yang ada untuk tetap hidup dan dapat berpikir tentang kebebasan terhadap bangsa ku.
Satu demi satu aku kumpulkan, serpihan barang bekas itu mendatangi ruang gelap ku, buku dan kertas kosong ku tempatkan bersama pada ruangan itu dan jemari tangan ku membenahi semua penyediaan barang bekas itu tuk dijadikan sebagai teman hidup ku pada ruangan yang awalnya bisu dan gelap seperti kosong adanya.
Yang ku paparkan pada dinding, ada dia disana Sang Sosialisme yang aku lukiskan Karl Marx beserta kata-katanya, ada juga para kawanan/sahabat pejuang ku, kedua orang tua ku serta mereka orang-orang hebat dan juga lukisan pemandangan, peta Papua, lukisan seekor anjing yang ku beri nama Sko. Dan juga ada beberapa perlengkapan kebutuhan lainnya yang mengisi separuh kebutuhan hidup ku. Tak lupa suatu hal yang sangat mendorong semangat jiwa ku untuk berpikir dan terus berjuang adalah musik istimewa sebagai suara hidup melawan segala keterpurukan dengan irama lokal dan penuh makna yaitu Mambesak, dan juga penyemangat saat aku depresi lagu Reggae lah yang membawa ku keluar dari kejenuhan.
Itulah singkatnya irama aktivitas ku pada ruangan kosong kelak bermakna.
Mengapa saya mengawalinya dengan Ruang Berpikir seperti sarang Penyamun.
Depresi menghantui jiwa ku, kedatangan orang-orang yang tidak sepaham, seakan keberadaan mereka adalah kegelapan bagi ku hingga aktivitas ku seperti berjalan dalam gelap tanpa cahaya terang. Pikiran ku terganggu, konsentrasi tak lagi naik hingga 100% (seperti gelombang radio).
Maaf Pribadi ku bukan menggambarkan individu yang terus menyendiri (pelit atau sombong) namun saya menyendiri bukan berarti tidak mau bergabung dengan kalian tetapi kesendirian ku adalah usaha ku berpikir untuk ada dan dapat berkerja sama untuk tetap hidup dan bebas dan terus memperjuangkan bangsa ku West Papua dari ragam persoalan yang kita alami bersama.
Ruangan ku tidak menutup pintu bagi mu yang ingin berpikir maju dan melawan ketidakadilan diatas bangsa ini.
Depresi bagi ku bukan halangan, aku masih terus berpikir.
Logical is Life (Berpikir adalah hidup)
SosialisKiri1995
Tidak ada komentar:
Posting Komentar